4  UTS-3 My Stories for You: Menghitung Risiko Demi Gerbang Impian

Kisah Inspiratif tentang Ketekunan Pragmatis dan Iman

Author

Aucloire

Published

October 1, 2025

My Stories for You: Menghitung Risiko Demi Gerbang Impian

Aucloire menyajikan narasi yang membuktikan bahwa tujuan tertinggi harus dicapai melalui perhitungan yang terukur, didukung oleh ketenangan spiritual. Kisah ini adalah tentang seorang pragmatis yang mengizinkan dirinya runtuh sejenak, hanya untuk bangkit dengan strategi yang lebih kuat.

1. Titik Nol: Sebuah Pertanyaan yang Mengubah Arah

Awal perjalanan ini jauh dari kata mulia. Saya melalui masa SMP dan awal SMA dengan mode autopilot: sekolah bukan prioritas, tugas dicopy, dan belajar adalah kata asing. Rutinitas itu berakhir dramatis ketika orang tua menyadari kondisi saya. Saya masih ingat nada suara mereka ketika pertanyaan itu dilontarkan: “Apa nanti kamu tidak mau lanjut SMA?” Pertanyaan itu bukan hukuman, melainkan sebuah realitas yang menampar. Saya terdiam. Masa iya saya berhenti? Masa iya di masa depan saya tidak menjadi apa-apa? Di titik inilah, sebuah mesin internal yang selama ini tidur mulai menyala. Meskipun kesadaran itu muncul, fokus tidak serta merta didapat. Di tengah sekolah online, mudah sekali untuk kembali jatuh ke kebiasaan lama. Saya tahu, untuk bergerak, saya butuh target yang konkret dan membakar.

Titik balik itu datang ketika saya mulai bertanya, “Mau kuliah apa dan di mana?” Di tengah pencarian itu, saya menemukan STEI-K ITB. Itu bukan sekadar jurusan, itu adalah sebuah cetak biru untuk masa depan, sebuah gerbang menuju otonomi dan kekuatan yang saya dambakan. Sejak saat itu, hati saya mantap. Meskipun dalam dua tahun ke depan saya sempat “oleng”—tertarik pada akuntansi, statistika, bahkan kedokteran—kompas internal saya selalu kembali menunjuk ke STEI-K. Itulah rumah. Target itu yang memungkinkan saya membuat perhitungan risiko.

2. Revolusi Kelas 11: Bukti Diri di Papan Peringkat

Jika Kelas 10 adalah dasar jurang dengan nilai-nilai jeblok—salah satu yang terendah di kelas—maka Kelas 11 adalah revolusi total. Setelah memantapkan STEI-K, saya segera menjalankan analisis data: sekolah saya adalah sekolah “sangat nugu” di Medan, dan peluang dari jalur SNMPTN terasa seperti lotre yang saya tidak mampu ambil risikonya. Sesuai prinsip pragmatis, saya menggugurkan jalur SNBP dan fokus 100% pada SNBT (ujian tertulis). Saya butuh kontrol penuh.

Keputusan ini menuntut kerja keras yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Bayangkan: dari murid dengan nilai jeblok, saya mengubah cara belajar, mencari tahu sumber belajar terbaik, dan berhasil meyakinkan orang tua untuk mendaftarkan saya ke Prosus INTEN. Perubahan itu membuahkan hasil dramatis. Di akhir Kelas 11, saya berhasil meraih Paralel 2 di kelas. Momen itu adalah kemenangan yang otentik. Bukan hanya kemenangan akademik, tapi kemenangan psikologis. Saya ingat perasaan bangga itu: Ternyata aku bisa kalau belajar, aku nggak bodoh ternyata. Keyakinan inilah, bukan sekadar nilai, yang menjadi fondasi bagi perjuangan dua tahun berikutnya.

3. Epilog di Ruang Dingin: Doa untuk Ketenangan

Perjalanan menuju UTBK adalah ujian pamungkas atas ketekunan saya. Mendekati hari-H, skor tryout justru turun drastis—tidak naik sama sekali. Dua tahun effort, semua ambisi itu, terasa terancam sia-sia. Saya panik, dilanda demot yang parah. Saat itulah, H-2 UTBK, mesin kontrol diri saya sempat mati. Saya mengambil waktu, lari ke kamar, dan menangis sejadi-jadinya. Itu bukan tangisan penyesalan, melainkan luapan kelelahan, kejujuran, dan ketakutan. Saya mengeluh, saya mengakui ketidakmampuan saya di hadapan Tuhan, dan saya meminta bantuan untuk bangkit lagi. Ajaibnya, setelah momen breakdown itu, hati saya tenang… beneran tenang. Semua kegelisahan, anxious, dan galau lenyap.

Di tengah saran teman untuk istirahat, saya justru merasa damai jika berada di lingkungan INTEN yang kala itu sangat produktif. H-1 UTBK, saya datang, duduk, mengerjakan soal dengan santai, hanya untuk berada di atmosfer yang saya tahu bisa menenangkan saya. Keesokan harinya, saya menjadi orang pertama yang datang ke lokasi UTBK. Di ruangan yang dingin, mencekam, dan sunyi, saya membaca catatan-catatan sambil mendengarkan lagu rohani—sebuah ritual pengingat bahwa semua usaha ini didukung oleh kekuatan yang lebih besar. Saya berdoa di setiap pergantian subtes, bukan hanya meminta jawaban benar, tapi meminta ketenangan dan kelancaran.

4. Final: Air Mata di Layar ‘LOLOS’

Tiba di hari pengumuman. GILA! Saya benar-benar tidak bisa tenang, jantung berdebar kencang—kontras sekali dengan ketenangan saya saat pengumuman SNBP. Saya kembali ke kamar. Kali ini, saya menangis lagi, tapi doa saya berbeda. Saya tidak meminta kelulusan. Saya meminta: “Tuhan, kalau saya tidak lolos, berikan saya ketenangan hati, hati yang bisa menerima hasilnya, hati yang tidak menyerah.” Saya meminta pengertian bahwa ini adalah rencana-Nya yang terbaik. Doa itu saya ulang-ulang hingga dua menit terakhir.

Satu menit terakhir, saya lari keluar, berdiri di depan Papa dan Mama, dan menekan tombol pengumuman. Layar menunjukkan: LOLOS!

Teriakan spontan itu diikuti dengan tangisan deras. Papa dan Mama saya heran kenapa saya menangis padahal lolos—mereka tidak tahu, air mata itu adalah luapan dari dua tahun effort, dari Paralel 2, dari skor yang turun drastis, dari doa yang akhirnya terjawab. Ini adalah momen langka, karena saya sangat menghindari menangis di depan orang lain. Momen itu membuktikan, perjuangan STEI-K ini bukan hanya tentang masuk kampus, tapi tentang menemukan kekuatan diri dan keyakinan yang sesungguhnya.

Kisah ini adalah undangan Aucloire kepada Anda. Bahwa di balik struktur yang kuat dan prinsip pragmatis, terdapat sisi manusiawi yang harus diizinkan untuk runtuh sejenak. Mengatasi demotivasi dengan iman dan bangkit dengan strategi terstruktur adalah strategi paling pragmatis untuk meraih ambisi yang mustahil.